ARAH DESA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE
Kemendes

Menpan RB Berjanji Kembalikan NIP CPNS Atas Nama Yuliana Yulianti Keri

Senin , 20 Mei 2019 | 18:43
Menpan RB Berjanji Kembalikan NIP CPNS Atas Nama Yuliana Yulianti Keri
Yuliana Yulianti Keri,S.Pd adalah seorang guru honorer komite di SDN Wegok, Kecamatan, Hewakloang, Kabupaten Sikka, Provinsi NTT bersama anggota DPR RI Fraksi partai Golkar, Melchias Markus Mekeng bertemu Menpan RB, Syafruddin di Jakarta, Senin (20/5/2019). (Foto: Istimewa)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Akhirnya peserta Tes CPNS 2018, Yuliana Yulianti Keri,S.Pd berhak mendapatkan kembali NIP (Nomor Induk Pegawai) yang sempat dibatalkan oleh BKN X Denpasar, karena terdapat kesalahan teknis saat input data tahun kelahirannya.

Menpan RB, Syafruddin berjanji akan mengurus dan mengembalikan NIP (Nomor Induk Pegawai) milik Yuliana Yulianti Keri,S.Pd, yang sempat dibatalkan, karena kesalahan teknis salah input data tahun kelahiran saat tes CPNS di Kabupaten Sikka 2018 yang lalu.

Pernyataan itu disampaikan oleh anggota DPR RI Fraksi partai Golkar, Melchias Markus Mekeng dan Yuliana Yulianti Keri, usai bertemu Menpan RB Syafruddin di Jakarta, Senin (20/5/2019).

"Sedang diproses untuk di kembalikan haknya sesuai aturan perundang-undangan yang ada," kata Melky Mekeng saat dihubungi media ini, usiai pertemuan dengan Menpan RB, Syafruddin di Jakarta, Senin (20/5/2019).

Sementara itu, Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Ibu Yuliana Yulianti Keri,S.Pd mengatakan, bahwa ada tiga poin disampaikan oleh pak Menpan RB.

"Pertama, persoalan itu hanya masalah teknis soal sistem yang salah input data," kata Yuliana,dalam pesan Whats App diterima media ini.

"Saya akan selesaikan ini segsegera, supaya Yuliana mendapatkan haknya,"ujar Menpar RB Syafruddin,kepada ibu dari tiga anak itu.

"Masalah ini sudah ditangani oleh Pak Iwan,salah satu Deputi Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB)," kata Syafruddin.  

Sebelumnya, Bupati Kabupaten Sikka Fransiskus Roberto Diogo (Robi Idong),mengatakan dirinya telah menerima laporan tersebut,dan langsung membuat surat rekomendasi ke Kantor Badan Kepegawaian Nasional (BKN) di Jakarta untuk diproses agar Yuliana mendapatkan kembali NIP sebagaimana haknya.

"Saya sudah buat surat dan mengutus Sekretaris BKD Kabupaten Sikka untuk bisa diberikan NIP (Nomor Induk Pegawai). Saat ini masih menunggu jawaban mereka," kata Bupati Robi Idong saat dihubungi media ini, Sabtu (18/5/2019).

Sementara itu, calon pegawai negeri sipil (CPNS) Ibu Yuliana Yulianti Keri,S.Pd, mengaku bersyukur dan tetap berharap,semoga semuanya menjadi kenyataan sesuai dengan harapan keluarga.

"Harapan saya, ke depan, untuk pemerintah, tolonglah perhatikan semua guru honor di daerah terpencil," ujarnya.

0d70b688-fd81-4a8a-aa34-365fe885a2be

Yuliana Yulianti Keri,S.Pd adalah seorang guru honorer komite di SDN Wegok, Kecamatan, Hewakloang, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengikuti tes CPNS pada periode 2018 yang lalu.

Diceritakan, saat mendaftar menulis tempat dan tanggal lahir,yakni Kewapante, 01-07-1983. Namun muncul di data entri tertulis tanggal dan tahun lahir Sikka, 01-07-1993. Data tersebut, belakangan menjadi salah satu penyebab dibatalkannya NIP nya, meski telah dinyatakan lulus dan sudah menjalani pemberkasan dan pembekalan oleh Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Sikka, dengan alasan umur nya sudah melampaui batas persyaratan yakni 35 tahun 3 bulan 1 hari.

Kesalahan teknis itu kemudian menjadi polemik antara Yulina Yulianti Keri dan pihak Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Sikka. Guru honor yang sudah 8 tahun mengabdikan diri dengan gaji hanya Rp 95.000-Rp 118.000/bulan itu mendapat perhatian khusus dari Bupati Sikka Robi Idong hingga Menpan RB, Syafruddin dan akhirnya berhasil.

Kini, Yuliana boleh legah dan akan kembali berkumpul dengan keluarganya yang ditinggalkan selama satu bulan lebih untuk memperjuangkan nasib NIP, sebagai dapur hidup bagi keluarganya ke depan. Selam untuk Ibu Yuliana Yulianti,S.Pd.

Editor : Patricia Aurelia
Reporter : Dominikus Lewuk
KOMENTAR