ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Update News

Penentuan Ibu Kota Negara Harus Mempertimbangkan Keamanan Nasional

Jumat , 06 September 2019 | 22:00
Penentuan Ibu Kota Negara Harus Mempertimbangkan Keamanan Nasional
Marsda TNI (Purn) DR Koesnadi Kardi, M.Sc, RCDS. (Istimewa)

Oleh: Marsda TNI (Purn) Dr. Koesnadi Kardi, M.Sc, RCDS

RENCANA pemerintah untuk memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Kalimantan Timur, harus mempertimbangkan Keamanan Nasional, karena tanpa itu sangat sulit untuk meraih Tujuan Nasional bahkan bisa dikatakan akan gagal mencapai Tujuan Nasional.

Pada abad–21 ini ada 4 (empat) unsur yang dapat mendukung Keamanan Nasional yaitu: (1) Kekuatan Ekonomi yang baik, (2) Kekuatan Politik yang stabil, (3) Kekuatan Pertahanan yang kuat, dan (4) Kekuatan bidang Informasi yang canggih. Sedangkan Tujuan Nasional (National Goal) seperti yang ada pada Pembukaan UUD 1945 adalah mewujudkan Masyarakat yang Adil dan Makmur.

Pertimbangan Kekuatan Ekonomi
Coba kita berandai-andai, apabila kita tidak memiliki Kekuatan Ekonomi yang baik, bagaimana kita dapat mewujudkan kondisi Masyarakat yang Adil dan Makmur. Itu bagaikan mimpi di tengah hari, karena prasyarat mewujudkan masyarakat yang Adil dan Makmur, pertama harus dapat meningkatkan masalah kesejahteraan terlebih dahulu.

Berkaitan dengan pemindahann Ibu Kota ke Kalimantan Timur, tentunya yang utama kita akan meningkatkan kemampuan dalam bidang ekonomi, sehingga taraf hidup bangsa Indonesia bisa lebih meningkat dari sebelumnya.

Oleh karena itu rencana pemindahan tersebut, perlu mendapat dukungan dari mayoritas masyarakat Indonesia. Premis ini bagaikan kehidupan rumah tangga yang akan pindah rumah, pasti masalah peningkatan ekonomi menjadi pertimbangan yang utama.

Pertimbangan Kekuatan Politik
Politik disini diartikan tidak akan terjadi konflik, baik karena perbedaan etnis, sosial–budaya, bahasa, agama dan kepercayaan. Mereka harus bisa hidup toleran, menghormati perbedaan yang ada, dan pada dasarnya mereka harus menjunjung tinggi “Bhineka Tungga Ika” karena sebagai landasan Persatuan Negara.

Kita harus ingat bahwa NKRI adalah negara kepulauan yang terbesar di dunia sehingga secara alamiah menimbulkan banyak perbedaan. Itu sesuatu yang logis dan merupakan anugerah Tuhan yang tidak terelakkan.

Oleh karenanya kita harus menjadikan kekuatan yang heterogen yang menghargai satu sama lain, sehingga menjadikan suatu kekuatan yang solit. Kita telah mengalami, walaupun agamanya sama, bisa berkembang menjadi perbedaan yang memicu adanya konflik yang berkepanjangan dan membahayakan bagi NKRI.

Contohnya sewaktu Pemilu Presiden tahun 2019 yang baru lalu. Contoh berikutnya adalah tragedi di Manokwari dan Jayapura yang dipicu oleh penyataan rasis di Surabaya dan Malang, sehingga rasa solidaritas masyarakat Papua yang berlebihan terjadi di Manokwari, Jayapura, dan Sorong dengan aksi pengrusakan fasilitas umum.

Hal ini terpicu juga oleh masih banyaknya masyarakat Papua yang taraf kehidupan masih pas-pasan, sehingga mereka menjadi sangat sensitif terhadap kesukuan. Adanya program “Otonomi Khusus” yang banyak diselewengkan sehingga tidak menyentuh ke sasaran yang tepat.

Pertimbangan Kekuatan dalam Bidang Pertahanan
Pertimbangan yang ketiga, harus berdampak pada peningkatan dalam bidang pertahanan. Artinya lokasi tersebut aman dari AGHT (Ancaman, Gangguan, Hambatan, dan Tantangan). Kalaupun Alutsista kita masih kurang canggih (karena hampir semua Alutsista (Alat Utama Sitem Senjata) merupakan produk dari luar negeri, terutama dari USA. Tapi dari lokasi strategisnya harus diperhitungkan sedemikian rupa agar aman dari AGHT (Ancaman Gangguan Hambatan Tantangan).

Selanjutnya kedepan kita harus berfikir untuk mengembangkan teknologi pertahanan dalam proses revolusi industri agar supaya kita mampu membuat produk teknologi berupa Alutsista untuk kepentingan pertahanan.

Apabila kita harus membeli Alutsista diupayakan agar memiliki detterence power yang hebat, misalnya melanjutkan pengadaan pesawat Sukhoi 35 yang pada kenyataannya lebih canggih dari pesawat F-18 (milik Australia dan Singapura).

Pada prinsipnya, harus lebih canggh dari milik negara tetangga. Penerbang kita sudah siap, hanya pesawatnya yang perlu disiapkan untuk mengamankan wilayah ibu kota dan termasuk FIR Singapura yang rencananya akan diambil alih pada akhir tahun 2019.

Pertimbangan Kekuatan dalam bidang Informasi
Dengan kemajuan dalam bidang teknologi utamanya dalam bidang informasi, harus juga dipertimbangkan. Seperti halnya cyber dan artificial intelligence, karena generasi milenial yang akan datang anak-anak kita sudah menggunakan peralatan dengan menggunakan computer maupun HP untuk kegiatan harian, dan peralatan tersebut sudah bukan lagi barang mewah, melainkan sudah merupakan barang kebutuhan mereka sehari-hari.

Peningkatan peralatan peralatan tersebut untuk kepentingan pertahanan sangt diperlukan, misalnya untuk cyber warfare, dsbnya. Bagi generasi muda berarti melengkapi mereka dengan peralatan digital yang sangat bermanfaat. Kalau kita berbuat demikian berarti kita ikut menyiapkana generasi muda yang berteknologi tinggi.

Jadi pemindahan ibu kota, keempat hal tersebuat harus dirtimbangkan. Selain itu kita harus pula mengembangkan UAV (Unman Air Vihicle) yang mampu memonitor ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) dan kapal-kapal yang melintasi perairan yang dekat dengan ibu kota sehingga dapat dijamin keamanannya lautnya.

Penggunaan Peralatan untuk Kepentingan KAMNAS
Dengan mempertim-bangkan ke-empat kekuatan tersebut, berarti penempatan ibu kota sudah mempertimbangkan sebagian besar Kekuatan Nasional (National Power) untuk tujuan keamanan Nasional (National Security) kita. Jadi pada garis besarnya dengan memindahkan ibu kota yang perlu dicapai adalah :

Pertama, kekuatan dalam bidang ekonomi harus dapat meningkat kesejahteraan bangsa Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke. Karena untuk menjamin kesejahteraan dan keadilan yang utama adalah peningkatan dalam bidang ekonomi.

Kedua, pertimbangann dalam dunia politik, terutama bagaimana membuat kondisi politik bisa stabil. Kita harus ingat berapa banyak perbedaan yang ada di Indonesia, harus ada formulasi kebhinekaan diantara sesama sehingga kejadian pada waktu Pilkada antar kelompok 01 dan 02 yang merugikan tidak akan terjadi lagi. Tragedi yang baru saja terjadi di Surabaya dan Malang juga tidak boleh terjadi lagi.

Ketiga, pertimbangan dalam dunia pertahanan. Sangat penting mengingat bahwa ancaman mungkin terjadi karena unbalance power dengan negara tetangga. Perpindahan ibu kota harus dapat diamankan dengan penempatan air power di lokasi yang sangat strategis.

Keempat, pertimbangan dalam dunia teknologi dan informasi, sangat membutuhkan SDM (Sumber Daya Manusi) yang memiliki pendidikan tinggi. Apalagi sebentar lagi akan dibangun Universitas Cyber, yang sangat bermanfaat.

 

Editor : Farida Denura
KOMENTAR