World AI Conference (WAIC) 2026 yang berlangsung di Shanghai. (Antara/Xinhua)
SHANGHAI, ARAHKITA.COM – Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) buatan China kini semakin banyak dimanfaatkan negara-negara berkembang untuk mempercepat pembangunan. Mulai dari tambak udang di Kamboja, jaringan listrik di Brasil, hingga sistem peringatan dini bencana di Afrika, teknologi AI China hadir sebagai solusi yang lebih terjangkau dan mudah diterapkan.
Di tengah masih lebarnya kesenjangan teknologi global, China menawarkan pendekatan berbeda. Alih-alih hanya mengembangkan AI berbiaya tinggi, Negeri Tirai Bambu juga menghadirkan teknologi yang lebih ringan, efisien, dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan negara-negara Global South.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam World AI Conference (WAIC) 2026 yang berlangsung di Shanghai.
Tambak Udang di Kamboja Jadi Bukti Nyata
Di Provinsi Takeo, Kamboja, setiap pagi drone diterbangkan untuk menyebarkan pakan udang secara otomatis. Bersamaan dengan itu, sistem pemantauan berbasis AI bekerja selama 24 jam mengawasi kualitas air dan mengirimkan data secara real-time kepada para peternak.
Teknologi yang diterapkan melalui Program Percontohan Pengembangan Terpadu Pertanian Pintar China-ASEAN ini terbukti mampu meningkatkan efisiensi budidaya. Bahkan, pendapatan tahunan peternak udang meningkat lebih dari tiga kali lipat per hektare.
Kesenjangan AI Masih Jadi Tantangan
Meski AI berkembang sangat cepat, manfaatnya belum dirasakan secara merata. Sebagian besar riset, kapasitas komputasi, dan pusat data masih terkonsentrasi di negara-negara maju.
Laporan Bank Dunia menunjukkan negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah masih tertinggal jauh dalam jumlah sistem AI maupun kemampuan komputasi. Sementara itu, Asosiasi Pusat Data Afrika mencatat seluruh kawasan Afrika hanya memiliki kurang dari satu persen kapasitas pusat data dunia.
Tanpa kolaborasi internasional, kesenjangan tersebut dikhawatirkan akan semakin memperlebar jurang pembangunan antara negara maju dan negara berkembang.
AI China Dinilai Lebih Cocok untuk Negara Berkembang
Profesor Universitas Fudan, Zheng Changzhong, menilai China sedang mengembangkan model AI yang tidak bergantung pada kebutuhan komputasi sangat besar seperti yang banyak dikembangkan negara maju.
Menurutnya, pendekatan tersebut membuka peluang bagi negara berkembang untuk mempercepat industrialisasi dan transformasi digital sesuai kondisi masing-masing.
Dipakai di Brasil hingga Afrika Selatan
Pemanfaatan AI China juga terlihat di Brasil. Melalui anak usahanya, State Grid Corporation of China menerapkan model AI Bright Power untuk membantu inspeksi jaringan listrik di wilayah hutan hujan, sabana, dan pegunungan yang sulit dijangkau. Sistem ini meningkatkan keselamatan sekaligus keandalan operasional.
Sementara itu di Afrika Selatan, perusahaan teknologi Huawei menghadirkan sistem pemantauan jalur kereta berbasis AI yang memadukan sensor optik dan visi komputer. Teknologi tersebut mampu mendeteksi potensi gangguan lebih cepat sehingga membantu mengurangi kecelakaan dan meningkatkan efisiensi inspeksi.
Open Source Jadi Kunci Pemerataan AI
Presiden ChinaEU, Luigi Gambardella, mengatakan model AI berbobot terbuka (open-weight) dengan biaya rendah akan membuat AI semakin mudah diakses.Menurutnya, universitas, perusahaan rintisan, maupun pengembang lokal dapat memanfaatkan teknologi tersebut untuk menciptakan berbagai aplikasi sesuai kebutuhan masyarakat masing-masing.
Selain itu, pengalaman China dalam menerapkan AI di sektor manufaktur, logistik, robotika, dan energi menjadi referensi penting bagi negara berkembang.AI untuk Hadapi Perubahan Iklim
Kerja sama AI China juga menyasar sektor mitigasi bencana.
Salah satunya melalui MAZU, sistem meteorologi berbasis AI yang dikembangkan Administrasi Meteorologi China. Teknologi ini telah digunakan di Pakistan, Ethiopia, Mongolia, dan Djibouti guna memperkuat sistem peringatan dini terhadap cuaca ekstrem.
Dalam ajang WAIC 2026, MAZU dipamerkan sebagai salah satu contoh bagaimana AI dapat membantu negara berkembang meningkatkan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim dilaporkan Antara.
China Luncurkan Rencana Aksi AI Global
Selama WAIC 2026, China juga meluncurkan rencana aksi baru untuk memperkuat kerja sama AI internasional.
Inisiatif tersebut mendorong akses yang lebih luas terhadap data berkualitas, layanan komputasi yang lebih inklusif, pengembangan ekosistem AI open source, peningkatan talenta digital, penyusunan standar bersama, hingga tata kelola AI yang aman dan bertanggung jawab.
Dunia Semakin Melirik AI China
Pendiri Insilico Medicine, Alex Zhavoronkov, menilai China kini berada di garis depan revolusi AI dunia. Menurutnya, model AI open source China tersedia secara luas dan mampu menghadirkan manfaat ekonomi yang nyata.
Ketertarikan terhadap teknologi AI China juga datang dari Kazakhstan. Wakil Kepala Administrasi Presiden Kazakhstan, Assel Zhanassova, menyebut negaranya ingin mengintegrasikan sistem digital nasional dengan berbagai model AI terbaik yang dikembangkan China.
AI untuk Pembangunan yang Lebih Inklusif
Para analis menilai pendekatan China menempatkan AI sebagai alat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bukan sekadar mendorong inovasi teknologi.
Dengan memperluas akses terhadap AI yang lebih murah, terbuka, dan mudah diterapkan, China berharap manfaat transformasi digital dapat dirasakan lebih merata oleh negara-negara Global South, sekaligus membantu memperkecil kesenjangan pembangunan di era ekonomi digital.