ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Update News

Suara Kita

Belanja Itu Memakmurkan

Senin , 01 Oktober 2018 | 18:15
Belanja Itu Memakmurkan
DR Bramantyo Djohanputro, MBA, CRMP, QIA. (Foto: Istimewa)

Oleh: DR Bramantyo Djohanputro, MBA, CRMP, QIA

PERNAH ada pesan beredar. Dalam pelemahan Rupiah, yang disinyalir bisa menimbulkan krisis ekonomi, sekalipun sinyalir tersebut terlalu dini untuk memprediksi krisis, sebaiknya menghemat pengeluaran, menunda belanja. Saran tersebut menimbulkan pertanyaan: apa benar saran tersebut? Atau jangan-jangan keliru? Kalau benar dalam hal apa, kalau keliru dalam hal apa?

Saran tersebut benar dalam hal berikut. Pertama, kalau belanja yang dimaksud adalah belanja kebutuhan tertier. Kebutuhan lapis tiga. Atau lapis-lapis berikutnya. Yaitu, kebutuhan yang kalau tidak dipenuhi tidak mengganggu aktivitas utama. Misalnya, belanja mobil baru, rumah baru, pakaian baru, dan lainnya, yang tidak dalam rangka meningkatkan produktivitas. Barang-barang tersebut lebih tepat untuk memenuhi keinginan, bukan kebutuhan. Termasuk di dalamnya adalah barang-barang yang bersifat konsumtif.

Kedua, barang impor. Barang impor yang masuk ke kategori pertama di atas, yaitu untuk memenuhi keinginan atau konsumtif, tentu masuk ke daftar hitam, blacklist, urutan atas supaya tidak dibeli. Selain itu, barang impor substitusi juga masuk dafar coret. Yaitu barang yang sebenarnya tersedia secara domestik. Hanya karena merek, brand, atau faktor tertenu maka barang tersebut masuk preferensi belanja. Coret saja dari daftar belanja. Ganti dengan produk domestik. Anda tidak terpengaruh dalam hal produktivitas. Paling-paling gengsi.

Di luar itu, belanja tetap perlu. Coba perhatikan struktur pendapatan dan pengeluaran masing-masing. Semakin kecil pendapatan, semakin besar porsi uang yang dibelanjakan. Saudara-saudara kita yang penghasilannya pada batas UMR mungkin menghabiskan seluruh penghasilan bulanan. Atau hampir seluruhnya. Kalaupun menabung, porsinya keil. Semakin besar penghasilan tentunya persentase pengeluaran belanja dibandingkan penghasilan cenderung menurun.

Dengan rata-rata pengeluaran penduduk Indonesia mencapai 80 persen dari penghasilan, jumlah belanja sektor rumah tangga sangat besar. Tidak mungkin berhenti belanja. Terutama untuk kebutuhan utama. Jadi kalau belanja dilakukan dengan bijak, belanja itu bagus. Sangat bagus untuk memutar ekonomi. Terjadi efek penggandaan, multiplier effect.

Bayangkan. Anda belanja sepeda yang diproduksi di Cikarang, misalnya. Maka produsen sepeda mendapat pendapatan. Dari pendapatan pabrik sepeda tersebut, sebagian untuk menggaji karyawan, sebagian untuk membeli bahan baku sepeda, sebagian lagi untuk mengembalikan cicilan ke bank, baik pokok pinjaman bunga. Karyawan yang mendapat gaji akan membelanjakan, sekitar 80 persen dari gajinya untuk membeli produk lain, sehingga produsen mengalami proses yang sama seperti pabrik sepeda.

Pabrik sepeda juga membayar ke pemasok bahan baku sepeda, sehingga sang pemasok bisa menggaji karyawan, membeli bahan baku, membayar cicilan pinjaman, membayar tagihan listrik, dan seterusnya. Pemasok pabrik sepeda juga mengalami proses bisnis selanjutnya seperti halnya pabrik sepeda. Dan mungkin mereka juga belanja ke perusahaan tempat Anda bekerja. Sehingga ekonomi berputar terus.

Itulah efek penggandaan atau multiplikasi. Bila Anda mendapat gaji sepuluh juta rupiah, belanja 80 persen dari gaji, atau delapan juta setiap bulan, maka secara langsung Anda memberi kontribusi kepada kemakmuran sebesar delapan juta rupiah pada bulan itu. Efek pengeluaran Anda tidak berhenti pada peningkatan kemakmuran delapan juta rupiah tersebut. Karena terjadi efek multiplikasi, pengeluarn Anda tersebut berkontribusi pada perputaran ekonomi, atau peningkatan kemakmuran, sebesar 40 juta rupiah. Itu dalam sebulan.

Jadi bisa Anda bayangkan, bila seluruh masyarakat Indonesia, yang berpenghasilan, belanja dengan bijak. Berapa besar kontribusi pada peningkatan kemakmuran masyarakat.

Ada dua catatan terkait belanja tersebut. Pertama, belanjalah dengan bijak. Belanjakan ke hal-hal yang memang Anda perlu, bukan sekedar yang Anda inginkan. Kadang memang susah membedakan antara keperluan dan keinginan. Cara paling mudah membedakan keduanya adalah, selama Anda tidak terganggu tanpa kehadiran suatu produk yang ingin Anda beli, berarti itu hanya keinginan. Tidak terganggu artinya Anda tetap dapat melakukan aktivitas tanpa mengganggu produktivitas.

Kedua, belanja produk domestik supaya efek multiplikasi mencapai maksimum. Bila Anda belanjakan seluruh pengeluaran Anda untuk produk impor, maka kontribusi pengeluaran Anda pada kemakmuran tidak ada dan efek multiplikasi juga nol. Bila Anda membelanjakan 100 persen untuk produk domestik, maka efek multiplikasi mencapai 100 persen juga. Semakin besar komponen impor dalam belanjaan Anda, kontribusi pada peningkatan kemakmuran semakin kecil.

Dengan demkian, kita juga perlu bijak membedakan mana produk domestik, produk nasional, atau produk yang tidak masuk ke kedua kategori tersebut.

Penulis adalah Direktur Eksekutif PPM Manajemen.

Editor : Farida Denura
KOMENTAR