Peluang Kebijakan dan Strategi Merespons Era Revolusi Industri Keempat

Selasa , 13 Februari 2018 | 19:34
Peluang Kebijakan dan Strategi Merespons Era Revolusi Industri Keempat
Avanti Fontana adalah Peneliti Strategi & Manajemen Inovasi UI (Istimewa)

Oleh: Avanti Fontana

ERA FOURTH Industrial Revolution (4IR) ditandai dengan revolusi dan inovasi teknologi yang luar biasa di bidang Artificial Intelligence, Internet of Things, Advanced Robotics, Wearables/Augmented Reality/Virtual Reality, dan 3D Printing. Fenomena dan keadaan 4IR ini memberikan tugas penting kepada setiap negara untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi perubahan-perubahan teknologi fundamental yang akan berdampak pada ekonomi dan industri serta kehidupan sosial budaya masyarakat.

Negara Maju yang kuat dalam basis teknologi dan inovasi dapat dengan mudah menyambut atau mengambil manfaat dari 4IR. Sementara Negara Berkembang dapat menghadapi tantangan atau bahkan menimbulkan persepsi “ancaman” dengan kehadiran 4IR misalnya terkait dengan (1) industri padat karya, peralihan tenaga kerja dari sektor manufaktur ke sektor jasa; (2) peralihan tenaga kerja dari sektor jasa tradisional ke sektor jasa online; (3) kualitas tenaga kerja yang mengalami pendalaman atau sebaliknya karena “kemanjaan” teknologi aplikasi; dan (4) kurikulum serta metode pendidikan di berbagai bidang dan tingkatan.

Bagaimana respons Indonesia terhadap 4IR? Teknologi 4IR dapat meningkatkan efisiensi dan daya saing suatu Negara. Isunya adalah sejauh mana kapasitas suatu Negara dalam memanfaatkannya. Jangan sampai Indonesia lebih banyak sebagai “konsumen” daripada “produsen inovatif.” Indonesia perlu meningkatkan kapasitas inovasi secara nasional bisa dan mengintegrasikan prospek dan peluang inovasi yang ditawarkan 4IR dalam sistem inovasinya. Teknologi 4IR bisa kita lihat sebagai alat transformasi pengubahan input menjadi output dalam proses-proses inovasi untuk menghasilkan dampak kesejahteraan.

Indonesia menghadapi situasi menurunnya kontribusi industri terhadap perekonomian dan pertumbuhannya. Selain itu Indonesia masih mengandalkan beberapa sektor industri saja seperti tekstil, makanan dan minuman serta pasar ekspor Tiongkok, Amerika, dan Jepang. Peran R&D dalam industri pun belum optimal. Situasi ini menunjukkan masih rendahnya daya inovasi industri Indonesia. Kedatangan 4IR memberi tantangan sekaligus persepsi ancaman bagi Indonesia bila tidak segera ditangani dalam langkah-langkah kebijakan, strategi, dan aksi yang nyata dan berbasis paradigma inovasi.

Selain itu, terkait dengan input inovasi nasional, Indonesia menghadapi kepentingan yang besar dan urgensi yang tinggi dalam menyesuaikan hingga menginovasi sektor pendidikannya. Sejauh mana dunia pendidikan menyiapkan Guru dan Peserta Didik dalam menghadapi dan merespons era 4IR dengan berbagai implikasinya? Semua itu perlu diintegrasikan dalam ekosistem dan sistem inovasi nasional dalam cetak biru dan rencana implementasi yang terukur secara sistematis pula.

Perubahan Disruptif

Atau drastis yang dibawa oleh 4IR juga mempengaruhi bentuk, peran dan cara kerja institusi publik. Pemerintah di berbagai tingkatan dapat menjadi agen pembangunan berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan. Pertama-tama, 4IR membawa tuntutan pergeseran paradigma membangun secara nasional di lingkungan yang berkonteks global. Relasi-relasi formal telah berubah menjadi relasi-relasi yang kurang bahkan tidak formal yang dapat dilakukan melalui komunikasi digital tanpa prosedur ketat. Kecepatan komunikasi meningkat luar biasa. Kecepatan pengambilan keputusan bisa meningkat walau tidak menjamin kualitas keputusan yang diambil. Ruang refleksi berkurang dimakan waktu digital.

Pendalaman kajian untuk mengambil keputusan bisa berkurang. Situasi tantangan tersebut menuntut kajian mendalam, waktu untuk mengambil keputusan, diskusi mendalam, koordinasi, kerja sama dan kolaborasi untuk mendukung proses-proses inovasi di tingkat lokal, nasional, regional, dan global. Tantangan untuk Indonesia adalah bagaimana membangkitkan potensi inovasi lokal, provinsial, dan regional yang tetap bisa menerapkan prinsip inovasi terbuka di era 4IR.

Tantangan lain yang berimplikasi luas juga muncul di bidang pemerintahan dan sistem politik. Dengan meningkatnya daya masyarakat dan semakin terfragmentasinya serta terpolarisasinya penduduk, sistem politik bisa membuat pemerintahan menjadi lebih “sulit” dan kurang efektif. Dinamika dan kompleksitas lingkungan serta kesaling-pengaruhan digital membuat pemetaan kekuatan politik dan pembangunan menjadi lebih kompleks.

Bagaimana mengukur efektivitas komunikasi politik dan pemerintahan pada situasi ini yang mampu memberi masukan kepada sistem politik dan pemerintahan? Akses Internet dan gawai cerdas yang hadir hingga pojok-pojok kampung dapat mempengaruhi sikap politik individual dan komunitas. Terlalu cepatkah loncatan teknologi ini bagi kondisi masyarakat pedesaan dan perkampungan yang belum sempat merasakan kesejahteraan secara riil?

Hendaknya 4IR membantu Pemerintah dalam menjalankan tugasnya dengan lebih baik. Penggunaan jaringan Internet untuk pelayanan publik dapat memodernisasikan struktur dan fungsi pelayanan publik, meningkatkan kecepatan proses dan transparansi, akuntabilitas, dan keterlibatan pemerintah dan masyarakat. Pemerintah perlu menyadari adanya pergeseran peran non-state actors yang semakin besar.

Organisasi menjadi semakin leluasa dan berbentuk jejaring. Struktur-struktur ketat hierarkis menjadi kurang relevan dalam proses komunikasi jejaring kolaboratif. Pembentukan kelompok-kelompok masyarakat pendukung dan sebaliknya bisa dilakukan dengan cepat dan dapat membuat efektif atau tidak efektifnya peran dan program pemerintah.

Peran Pemerintah dalam mempengaruhi perubahan di suatu Negara tidak sebesar dahulu kala. Kekuatan transnasional, provinsial, lokal, dan bahkan individual mengemuka. Kekuatan mikro dalam tata kelola gawai cerdas digital berakses Internet nirbatas membuatnya mampu mempengaruhi kekuatan makro pemerintah nasional.

Salah satu poinnya adalah bahwa di satu sisi, teknologi akan meningkatkan kapasitas warga untuk menyuarakan hati nuraninya, dan dapat mengkoordinasi segala upaya hingga mengkritisi pemerintah. Di sisi lain, pemerintah dapat memanfaatkan Teknologi untuk meningkatkan partisipasi dan monitor kekuasaan atas masyarakatnya demi menjamin efektivitas pemerintahan.

Pemerintahan era 4IR akan dilihat dari keberhasilannya dalam mengimplementasi pelayanan publik alih-alih sekedar sebagai pembuat kebijakan publik. Daya saing pemerintahan di era 4IR antara lain dapat terlihat dari kemampuannya beradaptasi dengan perubahan teknologi disruptif dan kemampuannya menciptakan struktur kerja yang transparan dan efisien. Pemerintah atau Pemimpin Pembelajar menjadi salah satu gaya kerjanya di tengah era yang semakin penuh kompleksitas.

Tata kendali pemerintahan menjadi krusial di tengah arus detak teknologi tanpa batas dan tidak kenal waktu lagi. Inisiatif dan upaya inovasi pemerintah dan masyarakat harus diangkat dan dilaksanakan, dan dapat bekerjasama dengan lembaga-lembaga pendidikan, lembaga-lembaga riset, dan bisnis/industri, serta media.

Karakter 4IR adalah karakter inovasi. Fourth Industrial Revolution merupakan tawaran peluang baru berinovasi dengan gaya baru pula. Inovasi di era keempat ini mengundang keterlibatan semua pihak dalam prosesnya dan itu berarti adanya ekosistem inovasi yang kondusif, input inovasi yang bagus dan banyak, proses yang dipercepat dengan 4IR, output inovasi yang berdaya-saing, dan berdampak secara sosial dan ekonomi. Pilihan-pilihan kebijakan yang diambil Pemerintah dalam proses yang holistik terintegrasi pada akhirnya menentukan apakah suatu Negara dapat mengkapitalisasi secara penuh peluang-peluang yang ditawarkan oleh revolusi teknologi ini.

Avanti Fontana adalah Peneliti Strategi & Manajemen Inovasi UI.

KOMENTAR