ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Update News

Pertama Kali dalam Sejarah, Indonesia Segera Miliki Bandara Terapung

Selasa , 13 Februari 2018 | 23:50
Pertama Kali dalam Sejarah, Indonesia Segera Miliki Bandara Terapung
Maket desain bandara dengan terminal terapung. (Istimewa)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Indonesia untuk pertama kali dalam sejarah akan segera memiliki sebuah bandara dengan terminal terapung, tepatnya di Bandar Udara Internasional Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah.

Disebut sebagai terminal terapung (floating airport) karena terminal baru Bandara Ahmad Yani dibangun di atas lahan lunak dan sebagian besar berair dengan menggunakan tiang pancang dan metode "prefabricated vertical drain" (PVD) untuk memadatkan lahan lunak tersebut. PVD sendiri merupakan sistem drainase buatan yang dipasang di dalam lapisan tanah lunak.

Desain terminal baru Bandara Ahmad Yani mengadopsi konsep "eco-airport" yang direncanakan, dikembangkan, dan dioperasikan dengan tujuan menciptakan sarana dan pra-sarana perhubungan yang ramah lingkungan serta berkontribusi positif pada lingkungan hidup.

"Eco-Airport" merupakan inisiatif gerakan untuk mengadopsi pendekatan pengelolaan bandara yang ramah lingkungan. Untuk kepentingan tersebut dilakukan pengukuran yang jelas terhadap beberapa komponen yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan.

Melalui penerapan konsep eco-airport diharapkan operasional bandara dapat mencegah terjadinya polusi. Komponen pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup terkait eco-airport terdiri dari kebisingan, getaran, udara, air, tanah, sampah, energi, kawasan keselamatan operasi penerbangan dan kesehatan masyarakat atau lingkungan alamiah lainnya.

Selain "eco-airport", bandara ini juga ditargetkan mendapatkan "Gold Certificate" dari "Green Building Council Indonesia" (GBCI) yang saat ini aspek desain Bandara Ahmad Yani sedang dalam proses untuk mendapatkan "Gold Certification Design Recognition" dari GBCI.

Kemajuan pembangunan terminal baru Bandara Ahmad Yani pada Minggu (11/2/2018) ditandai saat PT Angkasa Pura I (Persero) melakukan penutupan atap terminal baru oleh Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Terminal baru Bandara Ahmad Yani Semarang ini direncanakan mulai beroperasi (minimum persyaratan) pada Mei 2018. Pengoperasian terminal baru bandara ini diharapkan menjawab masalah minimnya kapasitas yang telah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir.

Penutupan atap terminal baru bandara itu merupakan komitmen pemerintah kepada penguna jasa bandara serta masyarakat Jawa Tengah umumnya serta Semarang dan sekitarnya pada khususnya untuk meningkatkan layanan kebandarudaraan dengan mengutamakan kenyamanan tanpa mengenyampingkan aspek keselamatan dan keamanan.

Pembangunan terminal baru itu juga merupakan bentuk kontribusi terhadap pengembangan perekonomian daerah, khususnya Semarang dan sekitarnya.

Pengoperasian terminal baru dan pengembangan bandara senilai Rp2,07 triliun ini merupakan solusi sejumlah masalah yang telah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir.

Kapasitas Bandara Ahmad Yani hanya mampu menampung 800 ribu penumpang per tahun, namun realisasinya pada 2017 sudah melayani 4,4 juta penumpang sehingga membuat penumpang tak nyaman dengan kepadatan tersebut.

Dengan kapasitas terminal baru yang dapat menampung hingga enam juta penumpang per tahun dan desain yang mengadopsi konsep "eco-green airport", maka calon penumpang pesawat udara dapat lebih leluasa dan nyaman berada di terminal baru.

Potensi pertumbuhan penumpang sebesar 10 persen tiap tahunnya juga dapat diakomodir oleh keberadaan terminal dan infrastruktur baru Bandara Ahmad Yani.

Terminal baru Bandara Ahmad Yani memiliki luasan area 58.652 meter persegi, hampir sembilan kali lebih besar dibanding luasan terminal eksisting yang hanya seluas 6.708 meter persegi.

Luasan tempat parkir pesawat (apron) nantinya mencapai 72.522 meter persegi yang dapat menampung 13 pesawat narrow body atau konfigurasi 10 pesawat narrow body dan dua pesawat berbadan besar kargo.

Pemerintah menginginkan Bandara Ahmad Yani nantinya diposisikan sebagai bandar udara bisnis dan industri.

Beroperasi Mei Bangunan terminal baru di sebelah utara landasan pacu (runway) eksisting sebagian besar berdiri di atas air dan dikelilingi kolam, mulai dari gedung terminal, gedung parkir, dan wetland park area.

Hal ini dimaksudkan untuk mengakomodir konteks lahan yang sebelumnya merupakan lahan rawa. Pada area bandara juga ditanami 24 ribu bibit mangrove atau bakau untuk medukung pelestarian lingkungan yang dapat menghadirkan banyak keistimewaan, baik dari aspek fisik, ekologi, maupun ekonomi. Keberadaan hutan bakau nantinya di sekitar bandara dapat dikembangkan sebagai obyek wisata alam tersendiri.

Terminal baru Bandara Ahmad Yani sebagaimana dilaporkan Antara, ditargetkan beroperasi dengan syarat minimum pada Mei 2018 sehingga sudah dapat melayani penumpang pada masa mudik dan libur Lebaran Juni tahun ini.

Syarat minimum tersebut antara lain terminal penumpang, gedung parkir satu lantai, terminal kargo, masjid, gedung Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK). Sedangkan pengoperasian penuh Bandara Ahmad Yani ditargetkan dapat dilakukan pada awal 2019.

Proyek pengembangan Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang dengan nilai total Rp2,07 triliun ini terdiri dari lima paket pekerjaan.

Paket 1 terdiri dari pekerjaan lahan dan jalan akses. Paket 2 terdiri dari pekerjaan apron dan taxiway. Paket 3 terdiri dari pekerjaan pembangunan terminal. Paket 4 terdiri pekerjaan pembangunan bangunan penunjang dan lanskap. Paket 5 terdiri dari pekerjaan water management.

Untuk paket pekerjaan satu dan dua sudah terealisasi 100 persen. Paket pekerjaan tiga (terminal) selesai sepenuhnya pada November 2018. Sedangkan paket pekerjaan empat (bangunan penunjang) dan lima (water management) selesai sepenuhnya pada 2019.

Dengan bisa dipergunakan terminal baru Bandara Ahmad Yani pada Lebaran tahun ini, diharapkan masyarakat yang mudik maupun balik ke dan melalui bandar udara tersebut sudah tidak lagi harus berdesak-desakan dan melakukan antrean panjang, karena bangunannya lebih luas, nyaman dan modern.

Editor : Farida Denura
KOMENTAR