ARAH DESA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE
Kemendes

Begini Kritikan PSI soal Pembungkaman terhadap Intoleransi

Selasa , 12 Februari 2019 | 16:58
Begini Kritikan PSI soal Pembungkaman terhadap Intoleransi
Ketua Umum PSI, Grace Natalie (Net)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Dalam pidato politik di Festival 11 Yogyakarta pada Senin (11/02) berjudul “Musuh Utama Persatuan Indonesia”, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia, Grace Natalie mengkritik kaum nasionalis di Indonesia yang selama ini bungkam terhadap intoleransi yang terus terjadi.

Grace juga mengingatkan bahayanya fenomena normalisasi intoleransi yang ditandai dengan masyarakat yang menganggap intoleransi sebagai sesuatu yang normal. Dalam menghadapi gelombang yang semakin besar itu, kaum Nasionalis-Moderat di partai politik, lebih memilih cara aman, agar lolos dari stigma anti-umat, demi kepentingan elektoral semata.

“PSI menganggap intoleransi adalah ancaman bagi persatuan masyarakat. Sehingga permasalahan ini harus diperjuangkan secara bersama-sama. Namun realitanya tidak ada partai politik mana pun yang berani angkat bicara,” tutur Grace.

Ia pun menambahkan, prioritas pertama yang harus diselesaikan hari ini menurut PSI adalah melawan segala bentuk ancaman bagi persatuan. Ancaman itu datang dalam beragam bentuk: ada yang ingin mengganti NKRI, ada yang ingin mengganti keberagaman dengan fahamnya sendiri dengan menyelundupkan regulasi diskriminatif. PSI percaya bahwa untuk menyelesaikan persoalan ini harus ada pengakuan diri bahwa ada masalah besar yang sedang mengancam persatuan Indonesia.

Di tingkat nasional, PSI akan mendorong "deregulasi aturan mengenai Pendirian Rumah Ibadah". PSI akan mendorong penghapusan Peraturan Bersama Menteri Mengenai Pendirian Rumah Ibadah.  Aturan terkait masalah ini harus dikembalikan kepada konstitusi, dalam hal ini Pasal 28 E, yang menjamin kebebasan beragama dan beribadah.Kedua, PSI akan mencegah lahirnya undang-undang atau peraturan daerah diskriminatif. Ketiga, “kami akan mendorong aparat keamanan serta birokrasi agar lebih tegas dalam menghadapi kasus intoleransi,” ungkap Grace.

Menurutnya, belakangan ini memang banyak yang bertanya-tanya mengapa PSI selalu berbicara tentang isu-isu sensitif. Namun Grace menyatakan, disinilah PSI sebagai satu-satunya partai yang berdiri dan berani membela kebenaran. “PSI berbeda dengan partai politik lainnya. PSI akan tetap memperjuangkan toleransi apapun resiko politiknya,” tandasnya.

Editor : Maria L. Martens
Reporter : Theresia Masang
KOMENTAR