ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

BKPM Fasilitasi Perusahaan Start-Up dengan Sejumlah Perusahaan dan Modal Ventura

Kamis , 06 Desember 2018 | 21:21
BKPM Fasilitasi Perusahaan Start-Up dengan Sejumlah Perusahaan dan Modal  Ventura
Narasumber dari BPPT, Asuransi Jasindo, Dirut PT Mandiri Capital Indonesia, dan

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Badan Koordinasi Penanaman Modal menggelar forum yang mempertemukan langsung perusahaan pemula (Start-Up Companies/SuC) dengan sejumlah perusahaan dan modal ventura untuk memfasilitasi SuC memanfaatkan pembiayaan yang bersumber dari dana Corporate Social Responsibility (CSR) dan sumber-sumber alternatif lainnya. Isu permodalan merupakan aspek krusial yang banyak disuarakan oleh para pelaku SuC dalam pengembangan Kawasan Sains dan Teknologi (KST) di Indonesia.

Forum ini dihadiri oleh sekitar 90 peserta dari puluhan SuC yang antara lain bergerak di sektor digital, energi, pertanian, produk herbal, serta makanan dan minuman. Sebagai narasumber, hadir Direktur Pusat Teknologi Kawasan Spesifik dan Sistem Inovasi BPPT, Iwan Sudrajat; Direktur Keuangan dan Investasi, Asuransi Jasindo, Didit Mehta Priadi; Dirut PT Mandiri Capital Indonesia, Mardianto E. Danusaputro; dan perwakilan Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia.

Dalam sambutan pembukaannya, Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal, Ikmal Lukman menyampaikan bahwa Pemerintah menargetkan membangun 100 KST di seluruh Indonesia, yang tertuang dalam RPJMN 2015-2019. “KST sendiri memiliki peran utama sebagai katalisator pembangunan ekonomi regional, sebagai inkubator unit-unit usaha baru yang berteknologi tinggi, dan sebagai penyedia layanan teknologi di daerah,” ungkapnya.

Ditambahkan, dalam proses inkubasi yang dilakukan KST, salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh start-up adalah pendanaan dan skema bisnis yang membuat bisnis mereka lebih berkembang dan berkelanjutan. Untuk mengatasi kendala tersebut, BKPM berupaya memfasilitasi para SuC untuk mendapatkan informasi mengenai best practices dan bantuan permodalan dari dana CSR, dana ventura, ataupun sumber dana lainnya.

Menurut Direktur BPPT, Iwan Sudrajat, konsep KST atau technopark pada dasarnya adalah melakukan hilirisasi hasil pengembangan teknologi yang ada menjadi produk-produk yang komersial.

“Jangan sampai inovasi-inovasi hanya tersimpan di laci-laci,” ungkapnya. Oleh karena itu, dalam pengembangan SuC, para penggiat start-up perlu didukung oleh berbagai jenis pembiayaan, seperti pinjaman kemitraan dan Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta penyertaan saham dari angel investors, modal ventura, dan equity crowdfunding.

“Di Indonesia, dana CSR belum banyak dimanfaatkan sebagai alternatif pembiayaan SuC,” tambahnya.

Presiden Jokowi telah menerbitkan Peraturan Presiden No. 106 Tahun 2017 tentang Kawasan Sains dan Teknologi (KST). Perpres ini merupakan tindaklanjut dari Nawacita keenam untuk membangun sejumlah KST di berbagai daerah melalui pembangunan sarana dan prasarana teknologi terkini. Hal ini diselaraskan dengan RPJMN 2015-2019 yang menargetkan pengembangan 100 KST di seluruh Indonesia yang juga merupakan bagian dari proyek strategis nasional. Hingga saat ini, 44 KST terbangun dan diharapkan menjadi inkubator pengembangan perusahaan-perusahaan pemula untuk mempercepat mereka melakukan spin-off dan komersialisasi produk.

Editor : Margaretha Purwati
KOMENTAR