ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Update News

Air Power Corner

Memprediksi Kecelakaan Pesawat Lion Air JT–610

Jumat , 02 November 2018 | 09:18
Memprediksi Kecelakaan Pesawat Lion Air JT–610
Tragedi jatuhnya pesawat Lion Air JT-610. (Tribunnews.com)
POPULER

Oleh: Dr Koesnadi Kardi, M.Sc, RCDS, Chairman APCI

MELIHAT tragedi jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 yang sampai sekarang masih dicari di perairan Karawang oleh 858 personil gabungan (Basarnas, TNI, Polri, KPLP dan Bea Cukai) menandakan betapa seriusnya pemerintah mencari bangkai pesawat dan para penumpang pesawat dan crew pesawat yang tenggelam.   

Sampai saat ini (tanggal 1 Nopember 2018) black box masih belum ditemukan, baru sinyal Ping dari black box yang sudah kedengaran.  Kalau hasil dari black box, analisanya akan dapat sudah ditentukan penyebab terjadinya kecelakaan dengan pasti, karena dapat merekam kecepatan, ketinggian, kemiringan pesawat, sampai dengan pembicaraan antara Pilot dan Co Pilot. 

Hasil analisa tersebut  memerlukan waktu 3 sampai 5 bulan, baru diketahui hasilnya secara pasti. Sambil menunggu waktu tersebut,  sebelum ditemukan penyebabnya secara pasti, baiklah saya mencoba mempredikiksi penyebab kecelakaan pesawat dari teori yang pernah yang pernah  saya peroleh pada waktu saya sekolah FSO (Flight Safety Officer) di San Benandino, California, USA. 

Dari debris reruntuhan pesawat yang berserakan berupa serpihan yang kecil-kecil yang menyebar, membuktikan bahwa pesawat tersebut jatuhnya menghujam ke laut dengan sudut yang cukup tajam dan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Impact yang keras  menghujam ke laut memiliki kekuatan (daya potensial) ½ MV2 (M = masa pesawat; V2 = kecepatan pesawat). 

Seandainya kecepatan pesawat 300 knots, berarti V2 = 300 x 300 = 90.000 knots.  Betapa besarnya kecepatan tersebut, sehingga bisa dibayangkan menghujam ke laut, pasti akan meledak dan jatuh berkeping-keping berserakan. Lain halnya kalau kalau penerbangnya prepare untuk mengambil tindakan gliding untuk ditching (landing di laut), pastinya pesawat tersebut memiliki waktu untuk mengambang beberapa menit baru tenggelam. Kalau kejadian tersebut yang dilakukan, berarti sama dengan kejadian pesawat Garuda yang pernah ditching di Bengawan Solo, sehingga penumpangnya selamat semuanya.  

Sekarang pertanyaannya: Mengapa pesawat jatuh menghujam ke laut, sehingga para penumpangnyapun menjadi tercabik-cabik (tidak utuh)? Bagaimana kondisi instrument yang di ruang kemudi Capten Pilot dan di Co Pilot ? Mengapa Penerbang tidak mengambil action “Fly the Air Craft” terlebih dahulu dan baru melaksanakan “Emergency Actions” ?

Sambil menunggu hasil dari analisa black box, akan kita lanjutkan analisa ini pada tulisan berikutnya. Hal ini saya tulis bukan bermaksud menyalahkan Penerbangnya.

Editor : Patricia Aurelia
KOMENTAR